Penggunaan Kecerdasan Buatan/ Artificial Intelligence (AI) seperti ChatGPT berkembang dengan sangat cepat. Namun, di balik kecanggihannya, teknologi ini ternyata membutuhkan banyak air — baik untuk mendinginkan mesin maupun untuk menghasilkan listrik. Padahal, menurut PBB, separuh populasi dunia sudah mengalami kelangkaan air akibat perubahan iklim.
Berapa Banyak Air yang Digunakan AI?
Ada perbedaan pendapat soal seberapa besar air yang dikonsumsi:
- CEO OpenAI, Sam Altman, mengklaim satu pertanyaan ke ChatGPT hanya menghabiskan sekitar 1/15 sendok teh air.
- Namun, penelitian akademisi di Amerika Serikat menemukan angka yang lebih besar, yaitu sekitar 2–10 sendok teh air per jawaban.
- Studi yang sama memperkirakan bahwa pada tahun 2027, industri AI akan menggunakan air 4–6 kali lebih banyak dibandingkan seluruh konsumsi air negara Denmark dalam setahun.
Mengapa AI Membutuhkan Air?
Saat AI memproses jutaan pertanyaan setiap hari, komputer-komputer besar di pusat data (data center) menjadi sangat panas akibat aliran listrik yang deras. Air digunakan untuk mendinginkan mesin-mesin tersebut, mirip seperti keringat yang mendinginkan tubuh manusia.
Tugas AI yang kompleks, seperti membuat gambar atau video, membutuhkan listrik jauh lebih besar dibandingkan tugas daring biasa. Menurut International Energy Agency (IEA), satu pertanyaan ke ChatGPT menggunakan listrik hampir 10 kali lebih banyak dibandingkan satu kali pencarian di Google. Semakin besar listrik yang digunakan, semakin banyak panas yang dihasilkan, dan semakin banyak pula air yang dibutuhkan untuk pendinginan.
Mengapa Pusat Data Dibangun di Daerah Kering?
Menariknya, banyak pusat data justru dibangun di wilayah yang rawan kekeringan, seperti Spanyol, Chili, dan negara bagian Arizona di Amerika Serikat. Beberapa alasannya:
- Lahan yang tersedia lebih luas dan murah
- Infrastruktur listrik yang memadai
- Daerah kering cenderung kurang lembap, sehingga mesin lebih awet dan tidak mudah korosi
Namun, hal ini memicu protes dari warga sekitar karena air yang digunakan pusat data bersaing dengan kebutuhan air minum penduduk lokal. Di Spanyol, misalnya, muncul gerakan protes bernama “Your Cloud is Drying Up My River” (Awan Digitalmu Mengeringkan Sungaiku).
Apa Solusi yang Sedang Dikembangkan?
Beberapa perusahaan teknologi besar sedang mencari cara untuk mengurangi dampak ini:
- Sistem pendingin udara — tidak memakai air, tetapi lebih boros listrik.
- Sistem “lingkaran tertutup” — air disirkulasikan terus-menerus tanpa perlu diganti atau diuapkan. Masih dalam tahap pengembangan awal.
- Pemanfaatan panas buangan — panas dari pusat data digunakan untuk memanaskan rumah-rumah warga, sudah diterapkan di Jerman, Finlandia, dan Denmark.
- Target “ramah air” pada 2030 — Google, Microsoft, Meta, dan Amazon berjanji akan mengembalikan lebih banyak air ke alam daripada yang mereka ambil.
Kesimpulan
Para ahli sepakat bahwa AI bisa dibuat lebih hemat air dan energi. Namun, karena penggunaan AI terus meningkat pesat, total konsumsi air pun ikut naik. Oleh karena itu, transparansi dan pelaporan yang jelas dari perusahaan teknologi dianggap penting agar dampak lingkungan dari AI bisa dipantau dan dikendalikan dengan baik.
Diringkas dari artikel BBC News Indonesia oleh Sarah Ibrahim, dipublikasikan 19 Juli 2025.

Recent Comments