{"id":2634,"date":"2023-09-29T22:52:45","date_gmt":"2023-09-29T15:52:45","guid":{"rendered":"https:\/\/smkn1gombong.sch.id\/stemsago\/?p=2634"},"modified":"2023-10-06T09:14:18","modified_gmt":"2023-10-06T02:14:18","slug":"jangan-ada-perundungan-di-smk-negeri-1-gombong","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/smkn1gombong.sch.id\/stemsago\/2023\/09\/29\/jangan-ada-perundungan-di-smk-negeri-1-gombong\/","title":{"rendered":"Jangan Ada Perundungan di SMK Negeri 1 Gombong!"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Gombong, Kebumen<\/strong> \u2013 Tim Guru BK SMKN 1 Gombong\nmemberikan materi tentang <em>Bullying <\/em>pada\nsiswa kelas X dan XI di GOR Susilo Sudarman pada Rabu (13\/09\/2023). Topik ini\ndalam rangka mengisi kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)\ndengan tema Bangunlah Jiwa dan Raganya. Topik <em>bullying <\/em>atau perundungan menjadi sesuatu yang perlu dibahas karena\nterkait dengan budaya positif di sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHarapannya\ntidak ada bullying di SMK Negeri 1 Gombong,\u201d ujar Rakiyah, S.Pd. selaku Guru BK\nSMK Negeri 1 Gombong.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut\nKementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, <em>bullying <\/em>(dalam bahasa Indonesia dikenal\nsebagai \u201cpenindasan\/risak\u201d) merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan\nyang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih\nkuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan\ndilakukan secara terus menerus.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPelaku\nbully biasanya yang merasa lebih kuat dan dengan maksud menyakiti,\u201d kata\nRakiyah, S.Pd. dalam presentasinya di hadapan sekitar 1080 siswa.<\/p>\n\n\n\n<p>Anak-anak\ndengan kendali diri rendah, mereka berpotensi untuk menjadi pembully. Hal ini\nkarena mereka mungkin sebelumnya pernah menjadi korban kekerasan, yang membuat\nmereka merasa selalu terancam. Mereka cenderung untuk bertindak menyerang\nsebelum merasa diserang, kurang memiliki perasaan bertanggung jawab terhadap\ntindakan yang mereka lakukan, serta sering ingin mengontrol dan mendominasi\norang lain tanpa menghargai perasaan mereka. Bagi mereka, melakukan bullying\nseringkali merupakan bentuk balas dendam atas pengalaman traumatis yang pernah\nmereka alami.<\/p>\n\n\n\n<p>Di\nsisi lain, mereka juga dapat menjadi korban bullying. Hal ini karena mereka\nmungkin memiliki kekurangan atau ketidakmampuan dalam aspek fisik dan\npsikologis tertentu, yang membuat mereka merasa dikucilkan oleh teman-teman\nmereka. Rasa isolasi ini dapat membuat mereka menjadi target bully oleh\nindividu atau kelompok lain yang merasa lebih kuat atau lebih dominan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cJangan\nsampai kita menjadi pelaku bully atau korban bully,\u201d tegas Rakiyah, S.Pd.<\/p>\n\n\n\n<p>Pencegahan\nbullying di sekolah dapat dilakukan melalui berbagai langkah:<\/p>\n\n\n\n<p>Pertama,\nsekolah dapat merancang dan mengimplementasikan program pencegahan yang\nberfokus pada pesan bahwa perilaku bully tidak diterima di lingkungan sekolah.\nIni dapat mencakup pembuatan kebijakan &#8220;anti-bullying&#8221; yang jelas dan\ntegas.<\/p>\n\n\n\n<p>Kedua,\npenting untuk membangun komunikasi yang efektif antara guru dan murid. Hubungan\nyang baik antara guru dan murid dapat membantu dalam mendeteksi potensi kasus\nbullying dan memberikan dukungan yang tepat.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketiga,\ndiskusi dan ceramah mengenai perilaku bullying harus menjadi bagian penting\ndari lingkungan sekolah. Ini dapat membantu meningkatkan kesadaran dan\npemahaman murid tentang dampak negatif dari bullying.<\/p>\n\n\n\n<p>Keempat,\nsekolah perlu menciptakan suasana lingkungan yang aman, nyaman, dan kondusif.\nHal ini termasuk memastikan bahwa murid merasa aman untuk melaporkan kasus\nbullying tanpa takut akan represalias.<\/p>\n\n\n\n<p>Kelima,\nsekolah harus menyediakan bantuan kepada murid yang menjadi korban bullying.\nIni termasuk dukungan emosional dan bantuan dalam menangani situasi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Terakhir,\npenting untuk melakukan pertemuan berkala dengan orangtua atau komite sekolah\nuntuk membahas masalah pencegahan bullying dan mengidentifikasi langkah-langkah\nyang dapat diambil bersama untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman\ndan inklusif.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita\nharus fokus pada pengembangan diri. Hadapi <em>bully<\/em>-an\ndengan prestasi,\u201d kata Andrian Melkiano dari kelas X DKV saat diminta\nmemberikan tanggapan terkait materi yang telah disampaikan.<\/p>\n\n\n\n<p>Sosialisasi tema <em>Bullying <\/em>merupakan salah satu kegiatan\ndalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang dilaksanakan SMKN 1\nGombong dengan Tema Bangunlah Jiwa dan Raganya. Kegiatan ini dilaksanakan dengan\nsistem blok pada 11 September s.d 22 September 2023.<\/p>\n\n\n\n<p>Penulis : Nurul Arifin<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gombong, Kebumen \u2013 Tim Guru BK SMKN 1 Gombong memberikan materi tentang Bullying pada siswa kelas X dan XI di GOR Susilo Sudarman pada Rabu (13\/09\/2023). Topik ini dalam rangka mengisi kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema Bangunlah Jiwa dan Raganya. Topik bullying atau perundungan menjadi sesuatu yang perlu dibahas karena terkait dengan budaya positif di sekolah. \u201cHarapannya tidak ada bullying di SMK Negeri 1 Gombong,\u201d ujar Rakiyah, S.Pd. selaku Guru BK SMK Negeri 1 Gombong. Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, bullying (dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai \u201cpenindasan\/risak\u201d) merupakan segala bentuk penindasan atau kekerasan yang dilakukan dengan sengaja oleh satu orang atau sekelompok orang yang lebih kuat atau berkuasa terhadap orang lain, dengan tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus. \u201cPelaku bully biasanya yang merasa lebih kuat dan dengan maksud menyakiti,\u201d kata Rakiyah, S.Pd. dalam presentasinya di hadapan sekitar 1080 siswa. Anak-anak dengan kendali diri rendah, mereka berpotensi untuk menjadi pembully. Hal ini karena mereka mungkin sebelumnya pernah menjadi korban kekerasan, yang membuat mereka merasa selalu terancam. Mereka cenderung untuk bertindak menyerang sebelum merasa diserang, kurang memiliki perasaan bertanggung jawab terhadap tindakan yang mereka lakukan, serta sering ingin mengontrol dan mendominasi orang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":2635,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/smkn1gombong.sch.id\/stemsago\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/perundungan.png","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/smkn1gombong.sch.id\/stemsago\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2634"}],"collection":[{"href":"https:\/\/smkn1gombong.sch.id\/stemsago\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/smkn1gombong.sch.id\/stemsago\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn1gombong.sch.id\/stemsago\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn1gombong.sch.id\/stemsago\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2634"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/smkn1gombong.sch.id\/stemsago\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2634\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2636,"href":"https:\/\/smkn1gombong.sch.id\/stemsago\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2634\/revisions\/2636"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn1gombong.sch.id\/stemsago\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2635"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/smkn1gombong.sch.id\/stemsago\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2634"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn1gombong.sch.id\/stemsago\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2634"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/smkn1gombong.sch.id\/stemsago\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2634"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}